Oktober 21, 2018
Pendekar Nusantara Menantang Jenderal Ahli Strategi dari Negeri China Tsun Tzu
Surabaya, IDM News - Selama ini kita tahu jika Tsun Tzu adalah seorang jenderal tentara China sekaligus ahli strategi yang hidup pada masa jaman China kuno, dimana karya tulisnya berjudul "The Art of war" telah memberikan pengaruh luar biasa terhadap filosofi barat dan timur.
Tidak sedikit negara baik barat maupun timur yang menjadikan karya Tsun Tzu sebagai rujukan karena komposisi strateginya yang menarik dan dapat diaplikasikan untuk berbagai kepentingan mulai dari budaya, politik, bisnis sampai dengan olah raga.
Tidak hanya itu, para pakar militer juga menjadikan buku "The Art of war" sebagai salah satu sumber pemikiran dalam menentukan strategi perang yang sesuai untuk kepentingan negaranya. Namun ada hal yang menarik, cerita tentang kehebatan strategi Tsun Tzu yang begitu melegenda ternyata jauh sebelumnya pada masa kerajaan Nusantara sudah pernah digunakan saat perang menghadapi kerajaan lain untuk memperluas pengaruh kerajaannya.
Akan tetapi dikarenakan sedikit sekali literasi yang ditulis oleh para sejarawan dalam membukukan strategi-strategi perang dimasa kini, membuat kehebatan strategi yang dimiliki pendekar Nusantara pada masa itu nyaris tak terdokumentasikan.
Hal ini diungkapkan oleh Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto, S.IP yang juga Kepala Penerangan Kodam v/Brawijaya saat melakukan bedah buku "Pendekar Nusantara Menantang Tsun Tzu" di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat memperingati Dies Natalis Ke-3 yang diadakan oleh Prodi S1 Pendidikan IPS, Minggu (21/10).
Dalam seminar bedah buku tersebut, Kolonel Singgih menjelaskan jika pada masanya para pendekar Nusantara tidak kalah hebat dengan Tsun Tzu. Bahkan dengan kehebatan strategi yang dimiliki, pendekar Nusantara berhasil mengalahkan kekuatan pasukan kerajaan Mongol dibawah Kubilai Khan yang menguasai separuh wilayah dunia karena kekuatan militernya yang kuat dan bersenjata lengkap.
Sebutlah Raden Wijaya, dengan strategi liciknya memanfaatkan kelengahan pasukan Mongol. Ia bersama prajuritnya berhasil menghabiskan ribuan tentara Mongol dalam sekali pertempuran hingga menyisakan Panglimanya saja dan beberapa prajurit dengan kondisi luka-luka.
Pada strategi yang lain, pria berpangkat melati tiga tersebut melanjutkan tentang strategi Tsun Tzu yang menaklukan lawan melalui pinjam tangan. Ia kemudian membeberkan dan menyandingkannya dengan strategi Ken Arok saat merebut Tumapel dari tangan Tunggul Ametung.
"Ken Arok lebih hebat lagi. Dia langsung menghabisi Tunggul Ametung tanpa pinjam tangan tapi tidak dicurigai oleh siapapun, karena sebelumnya dia meminjamkan keris Mpu Gandring miliknya ke Kebo Hijo untuk dipamerkan ke orang-orang. Setelah Kebo Hijo lengah, dia ambil keris tersebut untuk digunakan membunuh Tunggul Ametung. Sehingga keesokan harinya semua orang mengira yang membunuh Akuwu-nya adalah Kebo Hijo. Untuk menghilangkan jejak, Ken Arok langsung menangkap dan membunuh Kebo Hijo. Atas jasanya, Ken Arok diangkat menjadi Akuwu Tumapel dan menikahi Kendedes" kisahnya saat menceritakan isi buku yang ditulisnya.
"Raja-raja pada jaman dahulu memiliki strategi perang yang luar biasa, bahkan dijaman Sriwijaya hampir seluruh lautan nusantara diperkuat dengan armada perang yang bisa melakukan ekspansi ke wilayah manapun, termasuk kerajaan dimasa Majapahit. Tapi sayang, minimnya dokumentasi membuat kehebatan strategi Nusantara dimasanya seperti luput dari perhatian" terangnya lagi.
Pada masa modern saat ini, menurutnya strategi-strategi pendekar nusantara masih relevan untuk diterapkan bahkan jika perlu dikembangkan dengan dibuatkan literasi atau rangkuman-rangkuman sebagai pembelajaran generasi muda kekinian.
***
Editor : Setiawan
Sumber : IDM News
Editor : Setiawan
Sumber : IDM News
Baca juga:
Advertisement
loading...





Post a Comment