Kapendam V/Brawijaya : Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Generasi Muda Harus Melek Teknologi


Surabaya, IDM News - Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dibidang industri yang sudah memasuki tahap generasi 4 (4.0) menjadikan tantangan serius bagi generasi muda Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan teknologi yang semakin meningkat dan modern sehingga dapat mengurangi peran manusia untuk terlibat didalamnya.


Seperti yang dijelaskan oleh Kapendam V/Brawijaya Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto, S.IP selaku narasumber seminar yang bertemakan "Teknologi Informasi dan Ketahanan Nasional Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0" di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (21/10) yang mengatakan jika kedepan peran manusia secara bertahap akan digantikan oleh mesin dan robot, sehingga pemakaian tenaga manusia dalam perindustrian akan semakin berkurang.

"Kita sudah melihat bagaimana penggunaan internet sebagai alat pemasaran sudah mulai berkembang dan menggantikan peran manusia, di jerman pembuatan mobil juga sudah beralih ke tenaga robot" terangnya dihadapan ratusan peserta yang hadir dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.

Menurutnya, dalam revolusi industri 4.0 generasi muda Indonesia dituntut harus semakin kreatif dalam meningkatkan produktifitasnya agar tidak kalah dalam persaingan mencari lapangan kerja.

"Karena jika tidak disiapkan sejak dini, minimnya keterampilan yang dimiliki generasi muda justru akan berlaku sebaliknya yaitu menambah angka pengangguran akibat tidak siap bersaing di era revolusi industri 4.0" jelasnya.

Pria yang akrab disapa Singgih itupun kemudian melanjutkan materinya dengan memberikan gambaran tentang kaitan revolusi industri 4.0 jika dihadapkan dengan ketahanan nasional.

"Dalam perspektif dunia militer, revolusi industri 4.0 bisa juga disebut dengan perang generasi 4 dimana dalam perkembangannya perang yang dulu hanya bermodalkan tombak dan panah kini sudah berevolusi menggunakan mesin-mesin perang modern seperti tank, helikopter dan kapal perang, tidak hanya itu dalam perang modern musuh juga dapat menggunakan dunia maya sebagai zona perangnya sehingga lebih sulit dideteksi dan ditangkal" jelasnya sambil menunjukkan sejumlah foto-foto teknologi perang masa kini yang dimiliki negara lain.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, menurut Singgih untuk mendestabilisasi kondisi suatu negara, musuh tidak perlu lagi harus berhadapan langsung tapi bisa menggunakan kecanggihan teknologi. Ia lantas mencontohkan dengan maraknya berita palsu (Hoax), seseorang dapat menguasai psikologis suatu kelompok masyarakat agar dapat dikontrol atau dihasut untuk kepentingannya.

"Jangan remehkan hoax, beberapa negara mengalami kehancuran karena hoax. Untuk menangkal hoax, masyarakat harus cerdas dan memperbanyak literasi agar tidak mudah terseret isu-isu yang sifatnya destructive" tegas pria yang berkelahiran Magelang Jawa Tengah ini.

Kepada peserta seminar, Ia kemudian memberikan pandangannya tentang cara menghadapi gelombang revolusi industri 4.0 yang dapat berpotensi melemahkan ketahanan nasional jika tidak diantisipasi dengan baik yaitu generasi muda harus bisa mengoptimalisasi bonus demografi, melek teknologi dan terus meningkatkan kompetensi, mewaspadai proxy war yang mengarah pada radikalisme dan komunisme, memperkuat semangat kebangsaan, berpikir global tapi bertindak lokal serta cerdas dan bijak dalam menelaah informasi yang ada di Medsos.

Perlu diketahui, seminar tentang ketahanan nasional di era revolusi industri 4.0 ini diadakan di Universitas Negeri Surabaya dalam rangka Dies Natalis Ke-3 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Unesa yang diselenggarakan oleh Prodi S1 Pendidikan IPS. Hadir dalam acara tersebut para Dekan dan sebagai Moderator adalah Sukma Perdana Ketua Prodi S1 Pendidikan IPS.


***
Editor : Setiawan
Sumber : IDM News

banner
Advertisement
loading...
Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini