TNI - Perguruan Tinggi Sepakat Tangkal Radikalisme di Kampus

TNI - Perguruan Tinggi Sepakat Tangkal Radikalisme di Kampus

Malang, IDMN - Seluruh rektor perguruan tinggi di Malang Raya sepakat menjalin sinergi dengan TNI untuk meningkatkan wawasan kebangsaan generasi muda. Dari data yang ada, pelaku teror umumnya berusia kurang dari 40 tahun. Pengetahuan tentang radikalisme diketahui saat mereka masih muda. Umumnya pemahaman tentang radikalisme diperoleh saat mereka duduk di bangku kuliah.

Kesepakatan itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Prof Abdul Haris, pada Silahturahmi pejabat TNI Malang Raya dengan pimpinan perguruan tinggi di wilayah Malang, di Ballroom, Ijen Suites, Kota Malang. Pria yang didapuk sebagai perwakilan rektor itu mengatakan, jika sinergitas terjalin dengan baik, tak mungkin ada paham radikal di kampus.

”Ini harus kita viralkan, karena sangat menarik, yaitu TNI kembali ke kampus,’’ kata Haris dalam sambutannya.

 Dia menyebutkan, TNI kembali ke kampus tak perlu ditakuti. Dengan bersatunya TNI/Polri serta kampus dijamin tak ada paham radikalisme yang berkembang di kampus.  Paham radikal muncul karena pengertian agama yang keliru. Itu sebabnya dibutuhkan TNI/Polri untuk memberikan pemahaman wawasan kebangsaan untuk meningkatkan rasa nasionalisme. 

Dijelaskannya, di perguruan tinggi perkembangan ilmu informasi teknologi sangat pesat. Seluruh mahasiswa dapat memperoleh dari seluruh penjuru dunia. Internet dapat memudahkan mereka memperoleh informasi, termasuk hal-hal yang keliru pun dapat dicari melalui internet. 

”Tidak mungkin kita membatasi masuknya teknologi. Tapi yang kita bisa lakukan adalah, memberikan pemahaman tentang wawasan kebangsaan. Pemahaman tentang cinta tanak air, dan NKRI harga mati. Pemahaman itu bisa maksimal diberikan jika TNI/Polri dan perguruan tinggi bersatu.  Kami juga usul, sinergitas tak hanya terjalin dengan perguruan tinggi, tapi juga sekolah sebelum itu, seperti madrasah. Sehingga pemahaman tentang faham radikalisme ini betul-betul dapat dicegah sejak dini,’’ ungkapnya.

Danrem 083/Bdj Kol Inf Bagus Suryadi Tayo mengatakan, kegiatan ini diawali dengan peristiwa teror yang terjadi dan terus mengancam. Melalui kegiatan silahturahmi ini, TNI mengajak perguruan tinggi untuk bersama-sama menangkal radikalisme. 

Dari datanya, pelaku teror umumnya berusia kurang dari 40 tahun. Pengetahuan tentang radikalisme diketahui saat mereka masih muda. 

Senada dengan hal itu, Dandim 0833 Kota Malang Letkol Inf Nurul Yakin menyebutkan, para pelaku teror bukan orang bodoh, mereka lulusan perguruan tinggi. ”Saya tidak mau menyebutkan nama universitasnya. Tapi yang jelas, para pelaku baik yang meninggal, ataupun yang masih hidup, mereka rata-rata adalah lulusan perguruan tinggi. Dan mulai mengenal faham radikal saat mereka duduk di bangku perguruan tinggi,’’ ucapnya. 

Beberapa program kerjasama pun ditawarkan Nurul kepada pimpinan perguruan tinggi, mulai dari pemberian materi wawasan kebangsaan kepada mahasiswa baru, hingga pelatihan bela negara.

Kegiatan ini dihadiri pula oleh Panglima Divisi 2 Kostrad Mayjen TNI Marga Taufiq, Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Andi Wijaya. Juga para pejabat TNI Kodam V Brawijaya, serta Dandim jajaran Korem 083/Bdj.

***
Editor : Setiawan
banner
Advertisement
loading...
Diberdayakan oleh Blogger.
close
Banner iklan disini