Juli 25, 2018
TNI - Perguruan Tinggi Sepakat Tangkal Radikalisme di Kampus
Malang, IDMN - Seluruh rektor perguruan tinggi di Malang Raya sepakat
menjalin sinergi dengan TNI untuk meningkatkan wawasan kebangsaan generasi
muda. Dari data yang ada, pelaku teror umumnya berusia kurang dari 40 tahun.
Pengetahuan tentang radikalisme diketahui saat mereka masih muda. Umumnya
pemahaman tentang radikalisme diperoleh saat mereka duduk di bangku kuliah.
Kesepakatan itu disampaikan Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Prof Abdul Haris, pada Silahturahmi
pejabat TNI Malang Raya dengan pimpinan perguruan tinggi di wilayah Malang, di
Ballroom, Ijen Suites, Kota Malang. Pria yang didapuk sebagai perwakilan rektor
itu mengatakan, jika sinergitas terjalin dengan baik, tak mungkin ada paham
radikal di kampus.
”Ini harus kita viralkan, karena sangat menarik, yaitu
TNI kembali ke kampus,’’ kata Haris dalam sambutannya.
Dia menyebutkan, TNI kembali ke kampus tak perlu
ditakuti. Dengan bersatunya TNI/Polri serta kampus dijamin tak ada paham
radikalisme yang berkembang di kampus. Paham radikal muncul karena
pengertian agama yang keliru. Itu sebabnya dibutuhkan TNI/Polri untuk
memberikan pemahaman wawasan kebangsaan untuk meningkatkan rasa
nasionalisme.
Dijelaskannya, di perguruan tinggi perkembangan ilmu
informasi teknologi sangat pesat. Seluruh mahasiswa dapat memperoleh dari
seluruh penjuru dunia. Internet dapat memudahkan mereka memperoleh informasi,
termasuk hal-hal yang keliru pun dapat dicari melalui internet.
”Tidak mungkin kita membatasi masuknya teknologi. Tapi
yang kita bisa lakukan adalah, memberikan pemahaman tentang wawasan kebangsaan.
Pemahaman tentang cinta tanak air, dan NKRI harga mati. Pemahaman itu bisa
maksimal diberikan jika TNI/Polri dan perguruan tinggi bersatu. Kami juga
usul, sinergitas tak hanya terjalin dengan perguruan tinggi, tapi juga sekolah
sebelum itu, seperti madrasah. Sehingga pemahaman tentang faham radikalisme ini
betul-betul dapat dicegah sejak dini,’’ ungkapnya.
Danrem 083/Bdj Kol Inf Bagus Suryadi Tayo mengatakan,
kegiatan ini diawali dengan peristiwa teror yang terjadi dan terus mengancam.
Melalui kegiatan silahturahmi ini, TNI mengajak perguruan tinggi untuk
bersama-sama menangkal radikalisme.
Dari datanya, pelaku teror umumnya berusia kurang dari 40
tahun. Pengetahuan tentang radikalisme diketahui saat mereka masih muda.
Senada dengan hal itu, Dandim 0833 Kota Malang Letkol Inf
Nurul Yakin menyebutkan, para pelaku teror bukan orang bodoh, mereka lulusan
perguruan tinggi. ”Saya tidak mau menyebutkan nama universitasnya. Tapi yang
jelas, para pelaku baik yang meninggal, ataupun yang masih hidup, mereka
rata-rata adalah lulusan perguruan tinggi. Dan mulai mengenal faham radikal
saat mereka duduk di bangku perguruan tinggi,’’ ucapnya.
Beberapa program kerjasama pun ditawarkan Nurul kepada
pimpinan perguruan tinggi, mulai dari pemberian materi wawasan kebangsaan
kepada mahasiswa baru, hingga pelatihan bela negara.
Kegiatan ini dihadiri pula oleh Panglima Divisi 2 Kostrad
Mayjen TNI Marga Taufiq, Danlanud Abd Saleh Marsma TNI Andi Wijaya. Juga para
pejabat TNI Kodam V Brawijaya, serta Dandim jajaran Korem 083/Bdj.
***
Editor : Setiawan
Baca juga:
Advertisement
loading...




Post a Comment