Juli 25, 2018
Ini Lho Sosok Anak Pedagang Gorengan Yang Ingin Jadi Jenderal
Tulungagung, IDMN - Hafid
Bahtiar lulusan Akmil peringkat 77 Akademi Militer (Angkatan Darat) tahun 2018
si anak pedagang gorengan yang menjadi
Seperti apa perjalanannya hingga menjadi lulusan Akmil?
Hafid yang lahir di
Tulungagung 30 Desember 23 tahun silam merupakan anak kedua dari empat
bersaudara dari pasangan Mujani dan Supriatin. Kedua orang tua Hafid merupakan
pedagang gorengan di sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Boyolangu Kabupaten
Tulungagung.
"Saya dan istri
mengolah adonan jajanan gorengan, Hafid mengantarkan gorengan ke
warung-warung." kata Mujani meski sekarang sudah tidak jual gorengan lagi
dan lebih sering menerima kerja serabutan.
Postur jangkung dan fisik
kuat yang terbentuk dari kegiatan kesehariannya sebagai pemain basket dari SMAN
1 Campurdarat Tulungagung merupakan modal awal dia mendaftar Taruna Akmil.
"Dia niat dengan
keinginan sendiri untuk menjadi Taruna Akmil. Dua kali daftar semuanya Akmil,
usai gagal di pendaftaran yang pertama sempat ditawarin untuk mendaftar Secaba
tetap kokoh untuk daftar Akmil." ungkap Mujani.
Mujani juga menyebutkan bahwa
anaknya mempunyai tekad yang bulat untuk menjadi Taruna Akmil meski dihadapkan
dengan kondisi sederhana yang melekat pada kedua orangtuanya di Kabupaten
Tulungagung.
"Los aja pak,
bismilah saja. Nggak usah memikirkan biaya untuk masuk Taruna." ujar Mujani
sambil menirukan ucapan Hafid saat daftar Taruna Akmil.
Mujani menjelaskan bahwa
anak keduanya ini mendaftar 2 kali sebagai Taruna untuk Akmil pada tahun 2013
dan tahun 2014 dan akhirnya dinyatakan lulus pada tahun 2014.
Hafid mengaku sebelum
diterima sebagai Taruna Akmil, ia sering membantu meringankan beban kedua orang
tuanya dalam mencari nafkah. Ia menceritakan bagaimana gigihnya kedua orang
tuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
"Orang tua saya
pernah berdagang bakso, gorengan, jagung dan kacang rebus di pinggir jalan.
Masih ingat di memori saya waktu sekolah di SD dan SMP membawa gorengan saya
jual di sekolah." ungkap Hafid.
Menginjak remaja, siswa
SMA Negeri 1 Campurdarat masih gigih membantu meringankan beban orang tuanya.
Mulai dari menjadi tukang batu marmer sepulang sekolah hingga meluangkan waktu
melatih basket anak-anak di kampungnya. "Honor yang didapat lumayan buat
beli makan sehari-hari dan uang saku sekolah." tutur Hafid.
Hafid selalu bersyukur
dengan segala karunia yang diberikan oleh Tuhan YME. "Semua yang kami
dapat selalu kami syukuri untuk kebutuhan sehari-hari." tambah pemilik
tubuh jangkung yang hobi basket dan voli ini.
Hafid selalu mengingat
pesan moral dari orang tuanya untuk selalu semangat dan tidak mudah putus asa.
"Jangan pandang siapa orang tuamu atau keluargamu. Tetapi berbanggalah
darimana keluargamu." ungkap Hafid menirukan pesan orang tuanya saat dia
gagal daftar Akmil di tahun 2013.
Meski tidak menonjol
secara prestasi, pemilik tubuh jangkung ini menjabat mayoret Taruna Drum Band
saat menjadi Taruna Akmil.
Keluarga Hafid hampir
gagal mengikuti kegiatan Prasetya Perwira (Praspa) yang dilaksanakan di Istana
Presiden. Pasalnya Mujani dan keluarga mengaku belum siap sarana dan pra sarana
serta akomodasi untuk datang ke Istana Presiden di Jakarta.
Mendengar kabar tersebut,
Pangdam V/Brawijaya melalui Aspers Kasdam menyampaikan atensinya untuk
memberikan perhatian kepada keluarga Taruna Akmil dari Tulungagung ini.
Menjawab atensi dari
Pangdam V/Brawijaya, Danrem 081/DSJ dan Dandim 0807/Tulungagung memfasilitasi
segala keperluan yang dibutuhkan keluarga Hafid untuk dapat mengikuti kegiatan
Prasetya Perwira di Istana Presiden hingga.
Presiden Joko Widodo
(Jokowi) melantik 724 Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri tahun 2018 di
halaman depan Istana Merdeka Jakarta pada Kamis Juli 2018 yang lalu.
Hafid usai Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri tahun 2018 dirinya resmi menjadi Perwira TNI AD Korps Artileri Medan (Armed). Meski dari keluarga yang kurang mampu, ia tetap bangga menjadi seorang prajurit dan bercita-cita menjadi Jenderal. "Meski saya anak seorang kuli bangunan, tetapi cita-cita saya ingin menjadi Panglima TNI." tutup Hafid.
Hafid usai Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri tahun 2018 dirinya resmi menjadi Perwira TNI AD Korps Artileri Medan (Armed). Meski dari keluarga yang kurang mampu, ia tetap bangga menjadi seorang prajurit dan bercita-cita menjadi Jenderal. "Meski saya anak seorang kuli bangunan, tetapi cita-cita saya ingin menjadi Panglima TNI." tutup Hafid.
***
Editor : Setiawan
Baca juga:
Advertisement
loading...






Post a Comment